Monday, 18 March 2013


Resensi Buku 'Bait Bintang'

Anak indigo adalah anak yang memiliki karakteristik unik. Istilah indigo itu sendiri menggambarkan warna aura yang dipancarkan dari anak tersebut, yaitu berwarna biru hingga keunguan. Anak indigo dikenal memiliki kemampuan indera keenam yang berhubungan dengan hal supranatural serta memiliki kekuatan batin yang sangat tajam. Seperti yang dikisahkan dalam buku Najaah Husna Zaahirah yang berjudul “Bait Bintang”.

Novel fiksi ilmiah ini mengisahkan persahabatan tujuh insan yang dibangun kokoh dan masih menjaga nilai-nilai agung dalam kesehariannya. Diantara mereka, ada tiga anak manusia yang dianugerahi kekuatan indigo yaitu Syafi, Dian dan Reza. Kepekaan mereka bermacam-macam, diantaranya Syafi yang mampu melihat hal-hal gaib sejak dirinya masih kecil. Syafi dipandang sahabat-sahabatnya sebagai sosok penuh wibawa, ketajaman intuisinya selalu menjadi bahan pertimbangan bagi sahabat-sahabatnya dalam menganalisis teori atau fenomena yang berkaitan dengan kebesaran Allah SWT, tentu Syafi selalu mengaitkannya dengan ayat-ayat Al Qur’an sesuai dengan pembahasan tersebut. Dian yang memiliki kepekaan lebih atas fenomena alam semesta. Secara tidak disadarinya, kekuatan itu telah menjadi bagian hidupnya ketika hati dan pikirannya mulai berinteraksi dengan alam semesta, mendeteksi apakah sesuatu yang terjadi pada makhluk hidup itu telah sesuai proporsinya. Dan Reza yang mampu menalar berbagai macam rumus matematika dari peristiwa yang dianalisanya, kemudian dikaitkan dengan peristiwa mengenai keagungan Allah Yang Maha Kuasa secara empiris.

Dalam pemahaman mereka tentang kekuasan Allah SWT, mereka membuktikan bahwa semua makhluk hidup yang ada di dunia ini telah bersaksi akan kebenaran wahyu yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Dijelaskan dalam setiap makhluk ciptaan Allah terdapat bukti-bukti kekuasaannya. Tak hanya itu, penulis mengungkapkan pula misteri angka 7, yang di dalam buku ini disebut sebagai angka keagungan Allah. Dimana rumus matematis yang membuktikan keistimewaan angka 7 tidak lepas dari peristiwa sehari-hari yang kita alami, dimana setiap peristiwa tersebut bukan merupakan suatu kebetulan belaka, melainkan telah diatur oleh Allah Sang Maha Pencipta.


Tak hanya itu, misteri mengenai keimanan Leonardo Da Vinci dikupas satu demi satu. Dian yang sangat tertarik pada setiap karya pelukis fenomenal itu membahas secara detail tentang makna dari setiap lukisan yang dibuat Leonardo Da Vinci. Reza yang kemudian memiliki intuisi terhadap hal-hal matematis pun membeberkan makna dari waktu kelahiran dan kematian Leonardo Da Vinci, yang setelah dikupas melalui berbagai rumus matematika, mengungkapkan rahasia dalam setiap angkanya tentang bukti keimanan sang pelukis. Kemudian Syafi menambahkan argumentasi yang didasarkan pada ayat demi ayat yang tercantum dalam Al Quran.

Buku ini pun dibumbui kisah percintaan dua insan yang dalam perjalanan cinta mereka itu, niat mereka didasarkan atas kecintaannya kepada Sang Maha Kuasa. Buku ini juga menyajikan sajak pada setiap akhir babnya yang isinya berkaitan dengan intisari bab yang ditulis. Penyajian itu menjadi kelebihan dari buku yang saya anjurkan untuk Anda baca juga. Penyisipan sajak-sajak itu membuat kesan yang lebih menarik dan menjadi ciri penulis akan kekagumannya atas keagungan dan kecintaannya terhadap Allah. 

Kolaborasi antara perhitungan matematis dengan sajian drama fiksi ini menjadi sajian novel fiksi ilmiah yang jarang ditemui oleh para pembaca. Hanya saja, dalam buku ini hanya menyajikan satu contoh tokoh yang berhubungan dengan isi yang ingin disampaikan penulis. Dan dalam penjelasannya, penulis kurang memberikan argumen mengenai pemikirannya itu terkait banyak isu yang bertentangan dengan penjelasannya yang disajikan dalam buku. Sehingga pemahaman pembaca terkait peristiwa tersebut menjadi gamang dan dangkal.

Terlepas dari itu, buku ini memang novel fiksi ilmiah yang patut dibaca. Anda bisa melatih pemahaman dan pemikiran Anda tentang hal-hal yang mungkin kita anggap biasa namun jika ditelaah lebih mendalam, ternyata dalam setiap tindakan dalam kehidupan kita tak lepas dari keagungan dan kemuliaan Allah Sang Maha Agung.

 
            





Si Kecil

Pukul  22.15
Saat ini kamu tengah terbaring bersama cerita kiasan yang asyik kamu selami hingga detik terakhir mereka pergi. Balutan kain berwarna merah muda itu selalu setia menjadi perisaimu. Wajahmu yang polos, jauh dari kesemrawutan dunia membuat hati orang yang setiap kali melihatmu, tergoda untuk masuk ke duniamu. Tak ada rasa dengki maupun benci pada mereka yang ada di sekitarmu. Tak peduli apa yang ada di dalam pikiran mereka.

Wajah lonjongmu kini memilih bersandar pada sekumpulan kapas terbalut kain tipis berwarna biru dengan tambahan gambar kesukaanmu. Terkadang badanmu berpindah ke sebelah kiri, dan dalam hitungan menit kamu memilih untuk berada di sisi kananmu. Aku selalu ingin masuk bersamamu ke dunia itu. Merasakan apa yang kamu rasakan. Mengerti apa yang kamu angankan. Semata-mata hanya untuk mengenalmu lebih dekat.

Tak terasa sekarang sudah pukul 00.30 saat kamu mulai gelisah karena jalur respirasimu yang terhambat. Perlahan kamu mulai terduduk dengan mata yang masih terpejam. Tak ingin apapun yang ada di dunia ini mengganggu keasyikanmu bermain. Terombang-ambing badanmu ke depan dan tak lama kemudian dia mendekati dinding di belakang punggungmu. Kepalamu sedikit demi sedikit menengadah, mencari kenyamanannya.

Aku tak pernah tahu khayalmu seperti apa yang kini tengah membuatmu kembali dalam posisimu yang semula. Sesekali tanganmu menggapai-gapai dengan sendirinya, masih dalam keadaan matamu yang terpejam. Entah apa yang kau cari. Mungkin, sesuatu yang bisa menghilangkan gusarmu. Aku baringkan tubuhku di sampingmu. Menggenggam tangan kananmu yang mungil itu. Dan kamu pun kembali tenang.

Tak terasa aku pun terlelap, jauh pergi bersamamu. Meski hanya dapat melihatmu dari kacamata luar duniamu. Namun tetap aku bisa melihatmu. Kelincahan yang tak kunjung hilang. Keceriaan yang selalu ada. Menatapmu membuat kesusahan yang ada sirna seketika. Aku nikmati semua itu sebisaku.


Matahari meninggi dan kamu pun mulai terusik. Badanmu sudah mulai tak sabar untuk menemui hari barumu satu detik yang akan datang. Kelopak matamu bergerak-gerak. Kedua tanganmu mulai kamu angkat. Kedua kakimu tak ingin ketinggalan, ingin segera melalui beratus-ratus langkah dalam hari barumu itu. Dan bola mataku tak hentinya mengejar reaksi apa lagi yang akan kamu lakukan, sembari mengucapkan ‘selamat datang ke dunia barumu yang lain, sayang’.

Surat Kecil untuk Sang Malam

Aku ingin bercerita lagi padamu, Malam. Rasanya aku ingin mendekapmu dan mencurahkan apa yang kurasa saat ini. Dalam keremanganmu aku tertegun. Pikiranku seperti ada di suatu tempat yang aku sendiri pun tak tahu. Malam, kamu tahu apa yang terjadi? Sang gelisah dan sahabatnya, Resah, kini tengah memberdayaku dan terus menguntitku. Mereka sama sekali tak ingin beranjak meninggalkanku. Dalam keheningan ini mereka semakin membelengguku. Tampaknya mereka tak menghiraukan kehadiranmu, Malam.

Temanmu, Bulan, hanya tersenyum tanpa berbuat apapun. Pernahkah dia menceritakan apa yang sedang terjadi ini padamu? Pernahkah dia mengatakan padamu apa yang telah dilakukan Gelisah dan Resah? Aku mengharapkan kehadiranmu lagi, Malam. Aku dan kamu menikmati ketenangan yang berbaur dalam pesona Bulan. Sudah lama tak kurasakan lagi itu, Malam. Aku rindu padamu yang dulu, Malam. Rindu akan kehadiranmu yang dapat menenangkan segala bising. Menghanyutkan setiap orang yang mencari kedamaian ketika setiap detik kehidupan ini penuh dengan kemuslihatan yang tersamar oleh segala gerlap yang ditawarkan. Kamu ada dimana saat ini, Malam? Apakah kamu telah menyerah pada keadaan ini? Dan secara tidak langsung memintaku pun untuk turut dalam tindakanmu? Jangan, Malam. Jangan kamu sekali pun memintaku untuk melakukan itu. Aku tak mampu. Dan aku tak mau. 

Sesaat kadang terpikir jika aku harus bersekutu dengan Sang Surya. Memintanya untuk menjadi perisai dari semua anak panah yang terlepas dari setiap busur di segala penjuru itu. Meski saat aku memutuskan itu, maka aku harus menerima segala konsekuensinya. Bercengkerama dengan segala kepalsuan yang mereka tawarkan. Wahai Malam.. akankah kamu kembali? Mengisi kekosongan ini? Aku disini menantimu. Hingga jiwa ini benar-benar letih yang kuharap tak kan pernah terjadi. 


Dia..
sendiri menatap hamparan rumput nan luas itu. Tertegun melihat mereka tertawa-tawa dan tak hentinya berlarian. Bola yang bergelinding kesana kemari membuat matanya tak bisa berkedip. Tak ingin melewatkan setiap detik bumi ini berputar untuknya. Senyum dan gelak tawa anak-anak sebayanya membuat iri hatinya.

Jika dunia ini memang adil, harusnya aku ada di sana. Bersama mereka berlari dari satu ujung ke ujung yang lain, pikirnya. Tapi hati kecilnya menjawab, Dunia ini memang adil. Makna adil baginya tak kan dimengerti kita. Senyum yang tersungging di bibirnya setiap kali seseorang melewati tempat favoritnya, di depan gerbang rumah. Melalui teralis-teralis itu dia dapat menatap keindahan dunia nyata yang tak bisa dimilikinya saat ini.  Melalui kaki-kaki mereka, dia ikut berlari. Melalui tangan-tangan mereka, dia ikut melambai-lambaikan tangan kepada temannya. Melalui pikiran-pikiran yang menyenangkan itu, dia ikut terhanyut bersama kebahagiaan mereka. 

Dirinya tak ada di sana tapi bisa merasakannya. Setiap pagi dan sore dia asyik bercengkerama dengan keindahan itu. Setiap detik yang dia alami menjadi pengalaman yang paling menyenangkan baginya. Indah, selalu indah. Sapaan setiap orang yang melintasi tempatnya berpijak menjadi penawar rindu akan dunia yang lain. Setapak demi setapak dia lalui bersama badan ini. Merasakan keletihan yang tak dimiliki sepasang kaki itu. Sakit, kata mereka. Letih, kata mereka. Tapi semua kata itu tak hadir untuknya. Meski sesaat ikut terusik untuk muncul, tapi dengan sekilat semua ditepisnya. Tak ayal bagi mereka, tapi nyata baginya. Anugerah yang diciptakan Tuhan untuknya ada di setiap hembusan napasnya. Ada di setiap linangan air mata yang datang setiap malam. Di keheningan malam, dia hanya bisa mengadu pada Tuhan. Bukan untuk berkeluh kesah, namun untuk meminta di setiap detik hidupnya, di masa yang akan datang, akan dilaluinya dengan ketabahan yang berlipat ganda. Dengan semangat yang tak kunjung padam dan semakin menjadi di saat hatinya mulai rapuh. Keraguan yang seketika menyelimuti saat kelelahan itu datang, menjadi pendorong baginya untuk lebih yakin akan kuasa Tuhan.

Dari pelita yang tak kunjung padam, terjaga hingga semua makhluk terlelap.



Gemuruh Semangat

Tap..Tap..Tap..
Derap seribu langkah bergema
Pertanda seribu prajurit melangkah
Sebilah pedang terikat erat di samping kanan
Selongsong peluru siap menembus dada mereka
Lawan yang tengah menghadang

Dum..Dum..Dum..

Bunyi genderang terus memekakkan telinga
Padamu Hei…Kau Para Penjahat!
Sekeras suara perjuangan kami
Sekuat tekad kami
Tengah berdiri dalam pergolakan jiwa raga

Wahai Tuhanku….
Segala doa kami panjatkan padaMu
Segala pasrah kami serahkan padaMu
Iringilah langkah kami
Temani kami dalam segala waktu



Wajah polos itu tengah tertegun
menatap sekeliling
dunia yang belum dikenalnya.

Matanya yang bulat terus mencari dan mencari
sesuatu yang dianggapnya akrab
menelusuri setiap laku sekelilingnya
namun tetap tak dikenalnya.

Sekelilingnya adalah keasingan baginya
bagi dunianya

sekelilingnya menjadi dunia antah berantah
yang tak ayal ingin dipijaknya

sekelilingnya belum bisa memahami
dunianya.
Belum cukup dewasa untuk mengerti.

Kedua bola mata itu kini terpejam,
menikmati kebersamaan alam yang senantiasa selalu ada untuknya.

--untukmu..--




Kaki-kaki telanjang itu menjajaki setiap meter jalanan dengan wajah penuh peluh. Kucuran keringat karena sengatan matahari tak menghentikan langkahnya. Demi sejumput rezeki, dia rela meski harus bersusah payah dengan kaki yang tak sempurna. Menyusuri setiap liku jalanan yang terkadang tak bersahabat.

Setumpuk kardus-kardus bekas yang dibawanya dalam sebuah gerobak tua selalu menemani hari-harinya tanpa henti. Meski kadang hanya setengah dari mereka yang setia. Menjadi harapan baginya untuk bertahan.


--di saat mata-mata yang lain mulai terlelap--



Angin melebur bersama malam
rayapi dinginnya sepi 
menjajaki temaramnya cahaya bulan
menatap setiap gerakan sang bintang 
hilang dan muncul sesuka hati

sejenak ku terbangun dalam mimpiku
mimpi tentang dirimu

layaknya malam yang merindu siang
dalam kerinduan yang tak terkira
dalam kerinduan yang semakin menjadi
semakin menjadi karena tak mampu 

tak mampu membujuk takdir yang kian membatu.

                                                                           --iseng di malam hari saat hati mulai merindu dirinya--

Just a Note


Kegilaan ini terus menggila..
Menggeliat di bumi berpenghuni manusia..

Manusia yang semakin serakah akan dunia.. 
Lakunya seolah penguasa jagad raya.. 
Tak ingin bercermin pada kaca jiwa.. 

Seperti air yang tak henti beriak.. 
Api yang tak menyerah memberanguskan apa yang ada di pelupuk mata..

Air yang tak menyerah meluapkan kemarahan dalam gulungan ombak.. 
Angin yang tak menyerah berggulung-gulung dalam pusaran.. 

Membuat setiap luka semakin dalam.. Memiskinkan hati sebagian manusia..
Lebih memilih berpaling ketimbang berbagi.

Untitled


Redup dan senyap kini.. 
Mentari pun meredup,
tergantikan kelabu..

Rintik hujan ini membawa kenangan lalu,
seiring dia membawa angan dirimu untukku.. 

Dan rindu ini semakin terasa untukmu.