Monday, 18 March 2013


Surat Kecil untuk Sang Malam

Aku ingin bercerita lagi padamu, Malam. Rasanya aku ingin mendekapmu dan mencurahkan apa yang kurasa saat ini. Dalam keremanganmu aku tertegun. Pikiranku seperti ada di suatu tempat yang aku sendiri pun tak tahu. Malam, kamu tahu apa yang terjadi? Sang gelisah dan sahabatnya, Resah, kini tengah memberdayaku dan terus menguntitku. Mereka sama sekali tak ingin beranjak meninggalkanku. Dalam keheningan ini mereka semakin membelengguku. Tampaknya mereka tak menghiraukan kehadiranmu, Malam.

Temanmu, Bulan, hanya tersenyum tanpa berbuat apapun. Pernahkah dia menceritakan apa yang sedang terjadi ini padamu? Pernahkah dia mengatakan padamu apa yang telah dilakukan Gelisah dan Resah? Aku mengharapkan kehadiranmu lagi, Malam. Aku dan kamu menikmati ketenangan yang berbaur dalam pesona Bulan. Sudah lama tak kurasakan lagi itu, Malam. Aku rindu padamu yang dulu, Malam. Rindu akan kehadiranmu yang dapat menenangkan segala bising. Menghanyutkan setiap orang yang mencari kedamaian ketika setiap detik kehidupan ini penuh dengan kemuslihatan yang tersamar oleh segala gerlap yang ditawarkan. Kamu ada dimana saat ini, Malam? Apakah kamu telah menyerah pada keadaan ini? Dan secara tidak langsung memintaku pun untuk turut dalam tindakanmu? Jangan, Malam. Jangan kamu sekali pun memintaku untuk melakukan itu. Aku tak mampu. Dan aku tak mau. 

Sesaat kadang terpikir jika aku harus bersekutu dengan Sang Surya. Memintanya untuk menjadi perisai dari semua anak panah yang terlepas dari setiap busur di segala penjuru itu. Meski saat aku memutuskan itu, maka aku harus menerima segala konsekuensinya. Bercengkerama dengan segala kepalsuan yang mereka tawarkan. Wahai Malam.. akankah kamu kembali? Mengisi kekosongan ini? Aku disini menantimu. Hingga jiwa ini benar-benar letih yang kuharap tak kan pernah terjadi. 

No comments:

Post a Comment