Si Kecil
Pukul
22.15
Saat ini kamu tengah terbaring bersama cerita
kiasan yang asyik kamu selami hingga detik terakhir mereka pergi. Balutan kain
berwarna merah muda itu selalu setia menjadi perisaimu. Wajahmu yang polos,
jauh dari kesemrawutan dunia membuat hati orang yang setiap kali melihatmu,
tergoda untuk masuk ke duniamu. Tak ada rasa dengki maupun benci pada mereka
yang ada di sekitarmu. Tak peduli apa yang ada di dalam pikiran mereka.
Wajah lonjongmu kini memilih bersandar pada
sekumpulan kapas terbalut kain tipis berwarna biru dengan tambahan gambar
kesukaanmu. Terkadang badanmu berpindah ke sebelah kiri, dan dalam hitungan
menit kamu memilih untuk berada di sisi kananmu. Aku selalu ingin masuk
bersamamu ke dunia itu. Merasakan apa yang kamu rasakan. Mengerti apa yang kamu
angankan. Semata-mata hanya untuk mengenalmu lebih dekat.
Tak terasa sekarang sudah pukul 00.30 saat kamu
mulai gelisah karena jalur respirasimu yang terhambat. Perlahan kamu mulai
terduduk dengan mata yang masih terpejam. Tak ingin apapun yang ada di dunia
ini mengganggu keasyikanmu bermain. Terombang-ambing badanmu ke depan dan tak
lama kemudian dia mendekati dinding di belakang punggungmu. Kepalamu sedikit
demi sedikit menengadah, mencari kenyamanannya.
Aku tak pernah tahu khayalmu seperti apa yang
kini tengah membuatmu kembali dalam posisimu yang semula. Sesekali tanganmu
menggapai-gapai dengan sendirinya, masih dalam keadaan matamu yang terpejam.
Entah apa yang kau cari. Mungkin, sesuatu yang bisa menghilangkan gusarmu. Aku
baringkan tubuhku di sampingmu. Menggenggam tangan kananmu yang mungil itu. Dan
kamu pun kembali tenang.
Tak terasa aku pun terlelap, jauh pergi
bersamamu. Meski hanya dapat melihatmu dari kacamata luar duniamu. Namun tetap
aku bisa melihatmu. Kelincahan yang tak kunjung hilang. Keceriaan yang selalu
ada. Menatapmu membuat kesusahan yang ada sirna seketika. Aku nikmati semua itu
sebisaku.
Matahari meninggi dan kamu pun mulai terusik.
Badanmu sudah mulai tak sabar untuk menemui hari barumu satu detik yang akan
datang. Kelopak matamu bergerak-gerak. Kedua tanganmu mulai kamu angkat. Kedua
kakimu tak ingin ketinggalan, ingin segera melalui beratus-ratus langkah dalam
hari barumu itu. Dan bola mataku tak hentinya mengejar reaksi apa lagi yang
akan kamu lakukan, sembari mengucapkan ‘selamat datang ke dunia barumu yang
lain, sayang’.
No comments:
Post a Comment